Saturday, August 9, 2014


Pekanbaru-Australia

Perjalanan Melbourne
Satu, 090814

Jelang pendaratan di Bandar Udara Melbourne
Awalnya kuputuskan berangkat dengan taksi bersama Ay, tapi Ahlul datang ikut mengantar, jadilah kami berangkat dengan dua buah sepeda motor. Cuaca cerah tiba-tiba mendung, hujan turun tiba-tiba tepat di Simpang Pasar Pagi Arengka Pekanbaru. Kami berteduh di rumah makan. Hujan mulai berhenti, hanya rintik kecil kami lanjutkan perjalanan menuju bandara. Selang 300 meter komplek perumahan AURI, tak sedikitpun hujan menetes.
“Argh aneh sangat cuaca Pekanbaru, mungkin hujan buatan!.”
Tadi malam kami menunggu tepatnya sembilan bulan hari pernikahan kami.
“Ay ga kangen, kalau cha pergi.”
“ Ih Cha sok tahu, Cha yang ga kangen.”
Kami memang selalu bercanda, berkelahi, bercanda lagi, usil-usilan setiap hari di rumah. Ini malam terakhir hingga empat minggu ke depan sebelum kami bertemu lagi. Ay memberikan wejangan  jangan ini dan itu.
“Pokoknya Cha harus fokus.” Itu yang di wanti-wantinya.

***
Dibaris kelima ekonomi class, Garuda Indonesia (GA199) tepatnya di kursi 26 K.
“Lagi-lagi semua angka yang kusuka mulai dari 8, 26 argh love it.”
Take off pukul 18:40. Keberangkatan ini tidak nyaman bagiku, perut melilit akibat kedatangan bulan dihari pertama. Kepala jadi pusing tujuh keliling, animea. Perjalanan masih panjang, teman-teman perserta APJC sebagian sudah menunggu di Jakarta.
“Semangat, ganbate, yeay.”Nyemangatin diri sendiri.
Selang waktu tiba di Jakarta dan harus kembali berangkat Melbourne sangat sempit.  Pukul 20:45, dan aku harus check in kembali, imigrasi, pesawat menuju Melbourne pukul 22:35. Aku bergegas menuju penerbangan internasional. Untungnya bagasiku bisa langsung ditransfer ke penerbangan Melbourne.
Ini kali pertama penerbangan luar negeriku untuk jarak yang cukup jauh. Check in--Imigrasi—ruang tunggu siap untuk berangkat.
Di ruang tunggu E4 aku bertemu Mbak Moniq, Mbak Naomi, Lutfi, dan Mas Firman. Kami berkenalan, sebelumnya hanya bersua di Whats App saja.  Sekitar 15 menit menunggu kami telah dipanggil untuk segera menaiki pesawat.
Seat 38 K, masih dengan penerbangan Garuda Indonesia (GA 716). Aku duduk di dekat jendela.

“Tanah airku, tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku,” alunan musik lagu kebangsaan ini mengiringi keberangkatan.

“Gila aje ga mungkin lupa keles. Tapi bawaannya jadi sedih gitu. Ingat mama yang akan dirawat di Rumah, Sakit Senin depan arghh.”
Miring kanan-kiri, berbagai jenis posisi ku lakoni demi mencari posisi wenak alias PW. Memang sangat mengganggu jika datang bulan saat melakukan perjalanan, meski sudah meminum dua botol kiranti. Alhasil tertidur sebentar, dan tak bisa tidur lagi.
Hanya sekitar 3,5 jam penumpang sudah dibangunkan  untuk sarapanoleh awak kabin. Siapa yang mau makan jam ngantuk begini, helloww..

Sarapan pagi di Garuda Indonesia

***
Eng, ing, eng. Tiba di Bandara Melbourne, sebelumnya kita harus mengisi form kedatangan, dna berhadapan dengan imigrasi. Dari cerita yang kudengar, rada seram nih imigrasi, antrian panjang. Terlihat banyak yang ditanya-tanya, bahkan Mbak Naomi lumayan lama diintrogasi kali yah bahasanya. Rombongan cowok-cowok mulai risau. 
Peserta APJC kalau sudah nemu wifi gratis
“Aku kalau macam-macam ditanya, balik aja,” celetuk seorang bercanda.
Ting, ting, ting. Ideku muncul. Kita satuin aja kali ya, kita kan serombongan.
“Ingat abang-abang semua, senyum,”pesanku.
Menghadapi imigrasi sebenarnya tak seseram yang dibayangkan dan cerita-cerita orang. Mungkin juga ada unsur lucky, kali yah. Tanpa banyak di tanya kami lolos saja.
Jangan lupa untuk ambil bagasi. Dan kita akan di periksa lagi di tahap akhir. Dan lagi-lagi aku lolos tanpa banyak ditanya. Tak ada diperiksa barang bawaan sama sekali meski aku membawa obat-obatan.
Dan anehnya ga tahu salah dimana, Mbak Naomi kembali harus diperiksa lebih lanjut.
Tapi jangan pada takut akan pemeriksaan Imigrasi. Menurutku pede aja, keep smile aja, dan jujur apa yang ditanya. Di form kedatangan aku menulis bahwa aku membawa obat-obatan pribadi. Lebih baik jujur daripada diperiksa ternyata ada barang yang maybe declare or declare (saat pemeriksaan imigrasi tidak boleh difoto)


Pohon-pohon meranggas akibat musim dingin

Taman-taman di Melbourne (diambil dari atas bus)
Natalie telah menyambut kami, dengan bus kamu menuju Apartment  di Finlay. Sekitar 25 menit saja.Jalanan lengang, daun di pohon-pohon tampak kuning dan sebagian besar tak lagi berdaun. Tak ada kemacetan, tak ada klakson mobil, di sepanjang jalan banyak terlihat taman-taman tuk warga berolah raga atua sekedar duduk nongkrong. Bangunan-bangunan tua tampak di kiri-kanan jalan.Kesan pertama yang membuat hati nyaman.


No comments:

Post a Comment