Monday, August 1, 2011

Terus Berkarya Di Titik Zenith

Oleh Yofika Pratiwi

Profil Prof. Dr.Ir Mirna Ilza, MS

Percaya diri dan yakin akan prestasinya itulah yang membuat perempuan sederhana ini sukses di hidupnya. Prof.DR.Ir.Mirna Ilza,M.S sosoknya selama ini dikenal sebagai guru besar di bidang Peternakan khususnya ilmu pangan Universitas Riau. Duapuluh lima tahun sudah ia mengajar di sana.


Baginya masalah pangan di Indonesia perlu mendapat perhatian khusus. Hal itu demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena dengan memperoleh pangan yang baik setiap orang akan sehat . Dan jika sudah sehat tentu akan berpikir dengan baik. Sehingga kecerdasan itu dengan sendirinya bisa meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Yakin Akan Kemampuan

Perempuan kelahiran Padang 22 November 1954 ini belum memiliki cita-cita pasti semasa ia kecil. Semasa kecil hingga remaja ia lalui di kota kecil Sumatera Barat tepatnya di Payakumbuh. Kehidupan yang penuh dengan kedisiplinan yang diajarkan ayahnya yang berprofesi sebagai ABRI.

Meskipun disiplin sang ayah tetap mengajarkan puti sulung dari tiga bersaudara ini untuk selalu belajar, belajar dan belajar. ”Orang tua saya mengajarkan bahwa segala sesuatu mulai dari belajar , iqra itulah yang selalu didengungkan,” ujar Mirna mengingat.

Mungkin inilah yang membuatnya memiliki hobbi belajar. Sekolah di SDN 8 Payakumbuh, SMPN 1Payakumbuh, SMAN1 Payakumbuh ia selalu menyabet juara kelas. Hal ini dikarenakan ia selalu belajar dan yakin ia menjadi juara pertama dikelasnya. ”Target saya juara satu, juara tiga, dua sekali-kali. Juara tiga itu paling jatuhnya, terang perempuan berjilbab ini. Ia selalu berkeyakinan meraih juara pertama karena setiap hari yang dilakukannya hanya belajar.
Melihat prestasinya itu ia berkeyakinan bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dan karena kondisi pangan yang buruk di Indonesia dan hobbinya sedari kecil mengolah pangan setiap hari membuatnya memilih jurusan pangan di Fakultas Peternakan Universitas Andalas.

Perekonomian orangtua yang sulit baginya bukanlah suatu halangan berarti. Perkuliahan yang kala itu sangat mahal membuatnya tak gentar untuk menggapai cita-citanya. Yang ia lakukan hanyalah belajar dengan ikhlas. ” Saya belajar yang baik dulu mana tahu kita berniat baik kita dikasih reseki,”ujar istri Djeni Munadi ini. Harapannya terkabul sang Paman yang merupakan Duta Besar di Australia bersedia untuk membiayainya berkuliah. Hal itu tak di sia-siakannya ia pun berkuliah dengan baik hingga lulus di tahun 1981 dengan predikat terbaik.

Tetap Belajar Sebagai Pengajar

Di tahun 1981 karena sang suami ditugaskan di Bumi Lancang Kuning, ia pun turut bersama suaminya. Karena memiliki hobbi belajar maka ia memutuskan untuk berprofesi sebagai pengajar.”Tanpa memikirkan gajinya yang lain-lainnya. saya mengirimkan lamaran satu aja, dosen,” ujar ibu beranak dua ini. Karena prestasinya yang begitu baik dan surat rekomendasi Almamaternya sebagai lulusan terbaik akhirnya ia diterima di Universitas Riau pada tahun 1983. Ia ditempatkan di Fakultas Perikanan , namun tetap di bagian pangan khususnya Teknologi Hasil Perikanan. Baginya, dosen memiliki keasyikan tersendiri. Karena bisa terus belajar bahkan dari mahasiswa sendiri. ” Mahasiswakan tidak selamanya ilmunya dibawah kita, terkadang kita belajar juga dari mereka,” jelas perempuan melayu ini.

Baginya belajar mengurangi kepikunan, dan bagi Mirna jika orang sakit kepala karena belajar ia justru menghilangkan sakit kepala dengan belajar. Itulah yang membuatnya tetap ingin melanjutkan pendidikannya. Di tahun 1984 ia menjalani S2. Dalam keadaan hamil ia berhasil menyelesaikannya dalam jangka waktu dua tahun. Bahkan bagi perempuan berkulit kuning langsat ini kehamilannya yang mendorongnya utnuk segera menyelesaikan studinya itu. ”Karena ada anak-anak jadi mendorong cepat selesai,”kenangnya.

Lulus S2 tak membuatnya berpuas hati. Meski merasa terlambat karena di usia 46 tahun, baru melanjutkan studi Doktoralnya, ia tetap yakin bisa melakukannya. Itu merupakan titik zenith (pencapaian tertinggi) baginya. ”Sudah berkarir dan bekerja jadi ingin mencapai yang tertinggi,” itulah alasannya melajutkan studinya. Dengan hanya memakan waktu tiga setengah tahun ia berhasil lulus dengan nilai terbaik. ”Rasanya bangga dipanggil pertama dan mendapat tepukan begitu meriah,” ujarnya.

Akhirnya sebelum usia 50 tahun ia telah dikukuhkan sebagai guru besar.
Semua itu dilakukannya demi ilmu yang kemudian akan ditransfernya kepada para anak didiknya agar lebih pintar. ” Mudah-mudahan ilmu bermanfaat bagi mereka untuk mencari duit kelak, saya hanya berdoa mendapat balasan dari tuhan,” harapnya.

Bersosialisasi di Organisasi

Setelah menjadi dosen ia tetap ingin mengembangkan ilmunya dengan belajas melalui interaksi dengan oranglain di bebagai organisasi. Karena menurutnya dosen merupakan sebuah profesi, akantetapi ia juga harus mengembangkan diri. Denga berorganisasi Mirna merasa lebih tahu dunia luar dan belajar menjadi seorang pemimpin.” Organisasi kita diajarkan untuk jadi pemimpin, karena dimanapun kita bisa jadi pemimpin di rumahtangga misalnya,” kata guru besar ilmu pangan satu-satunya di Provinsi Riau ini.

Sebagai putri dari purnawirawan ABRI ia bergabung di FKPPI Provinsi Riau sebagai wakil ketua (1988-1994). Disini ia mendapat banyak pengalaman dengan mengikuti berbagai Rakorna, dan ia kini telah menjadi pembina di FKPPI.

Selain itu perempuan berkacamata ini mengalami pengalaman yang amat tak terlupakan kala ia menjadi Wakil Sekretaris KNPI Provinsi Riau (1988-1994). Kala ia beserta rekannya yang lain mengikuti Rapat Kerja Nasional di Dilli Timor-Timor. Saat itu Timor-Timor masih menjadi bagian Indonesia, dan saat ia berada disana Timor-Timor sedang dalam keadaan gawat darurat karena mempersiapkan kemerdekaannnya. Namun karena sifatnya yang amat pemberani dia tak takut berada disana. ”Alhamdulillah ga ada apa-apa, saya berani aja. Mungkin karena orang tua Abri, jadi darah pemberani itu ada . Tapi kita ga boleh nekad, ” pesannya.

Selain itu ia juga mengikuti beberapa organisasi lainnya seperte Asosiasi Dosen Indonesia dan Forum Guru Besar Indonesia. Sebagai bukti menjadi guru besar baginya ia harus banyak menulis. Selain untuk menjadi bahan bacaan mahasiswa juga untuk membantu akreditasi jurusan yang ia naungi. Kini ia telah berhasil menerbitkan dua buah buku dan sebuah jurnal terakreditasi.

No comments:

Post a Comment