Monday, August 1, 2011

Kemuliaan Dibalik Kesederhanaan

Oleh Yofika Pratiwi

Profil Dr. Christine Jose

Hidup dengan pola sederhana menjadi pilihan hidupnya. Permpuan yang begitu suka dengan gemerlap perhiasan tapi berbeda dengan perempuan satu ini. Berjuang demi orang-orang yang membutuhkannya uluran tangannya. Mahasiswa yang memiliki latar belakang ekonomi lemah di ajarkannya untuk tetap berjuang secara mandiri hingga lulus kuliah.


Perempuan asli Rengat ini tampak begitu bersemangat. Kelincahannya dalam beraktifitas tak menampakkan usianya yang telah menginjak ke enampuluh tahun. Rambutnya yang telah memutih tak menyurutkan langkahnya melakukan berbagai aktifitas. ”Saya ga mau pakai perhiasan, bukannya ga suka, tapi memang saya ga punya, karena itulah kalau saya tak punya uang saya tak pernah stress,” ujar perempuan asal kota yang terkenal akan buah kedondong dan keripik pisang ini. Hidup sederhana adalah motonya.

Di Masa Sekolah

Christin Jose terlahir sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara di sebuah Kabupaten Provinsi Riau, Rengat 24 September 1948. Masa kanak-kanaknya ia habiskan di kita kelahirannya dengan bersekolah di SD N 1 Rengat. Memasuki usia remaja sempat ia habiskan selama setahun di kota Kembang Bandung, tepatnya saat ia SMP kelas satu dikarenakan sang ayah yang berpindah. Tak lama keluarganya berpindha di Bumi Lancang Kuning, Pekanbaru.

Memasuki Sekolah Menengah Atas ia sudah mulai belajar memutuskan pilihannya, dalam bersekolah. Ia memilih kota Padang yang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). ”SMA Don Boscho Padang, karena dulu kan terkenal bagus disiplin,” ujarnya.

Di masa sekolah ia begitu aktif, dan memiliki prestasi yang baik. Diantara teman-temanya yang lain, ia seorang wanita yang terbiasa menertibkan teman-temannya dalam baris berbaris. Bahkan sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas ia menjadi pemimpin upacara. ”Baris-berbaris saya selalu menjadi pemimpin upacara,” kenang dari ibu dari seorang putri tunggal ini.

Mengukir Prestasi

Sedari kecil sebenarnya ia tak memiliki cita-cita menggeluti bidang kimia, apalagi dibidang kimia pangan. ” Asal saya kuliah aja dah,” ujar ibu dari Nancy ini. Dulu ia hanya bercita-cita menjadi yang terbaik dan tidak hidup susah. Maka dari itu baginya dalam mengerjakan sesuatu ia selalu rajin dan tabah untuk menggapai apa yang ia inginkan.

Setelah lulus SMA ia melanjutkan perkuliahan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, jurusan Kimia, Universitas Riau. Saat masih berkuliah ia begitu berprestasi. Ketekunannya dalam belajar membuatnya berhasil meraih beasiswa bakat dan prestasi. ”Pada waktu itu beasiswa hanya kepada mahasiswa satu orang, di setiap fakultas,” ujarnya.

Namun karena rasa rendah dirinya itu merupakan sebuah hal biasa, bahkan ia banyak temanya yang lebih pintar darinya. ”Saya Cuma rajin aja, kalau dikatakan pandai yah sama ajalah dengan mahasiswa lain,” katanya merendah.

Bukti ketekunannya dalam belajar tak hanya terbukti sampai jenjang strata satu saja. Lulus perkuliahan, ia mencoba melamar menjadi dosen di almamaternya di tahun 1982. Setahun berikutnya saat ia belum resmi sebagai dosen Pegawai Negeri Sipil, ada sebuah penawaran beasiswa dari University of Kentucky Amerika. Lantas ia memutuskan untuk mengikuti tes beasiswa itu.

Baginya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi merupakan sebuah ”rasa iri” sejak kecil terhadap orang yang berpendidikan tinggi. ”Saya dari kecil selalu kagum dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang berpendidikan tinggi.Saya berpikir alangkah hebatnya mereka, ujarnya mengenang.

Ternyata setelah mengikuti tes ia dinyatakan lolos meraih beasiswa . ”Senior memenuhi syarat secara formal (PNS), saya walaupun masih baru cpns tapi saya diterima,ujarnya. Dan perjuangannya melanjutkan S2 bukanlah hal mudah. Ia mempersiapkannya sejak lama. ia mempelajari sendiri bahasa Inggris setiap harinya dengan membaca buku. ”Saya tidak punya uang untuk kursus, tak punya uang tak punya waktu, saya tekadkan belajar sendiri,” katanya. Tekad yang begitu tinggi untuk meraih cita-citanya ternyata membuahkan hasil yang begitu baik.

Semuanya bisa ia raih karena tetap memegang teguh prinsip sang ayah. Jangan iri pada yang malas, kita harus menjadi orang yang terajin. Sehingga kalau ada fasilitas, ada kemudahan kita yang maju duluan. Itulah yang selalu ia tanamkan dalam dirinya.

Melawan Berbagai Cibiran

Berada di negeri asing dengan pola ajar yang berbeda dan bahasa yang berbeda tak menjadi hal yang rumit bagi seorang Christin. Malah baginya menjadi sebuah tempat yang mengasyikkan untuk menimba ilmu karena fasilitas yang begitu memadai dan dosen yang begitu membantunya. ”Di Amerika dosen lebih terbuka untuk diskusi dan sebagainya,” ujarnya. Yang perlu ia sesuaikan adalah jurusan yang diambilnya merupakan bidang pertanian. Tapi itu pun tak sulit baginya karena masih berhubungan dengan kimia, yakni jurusan kimia pangan.

Hanya sang Profesor yang selalu membimbingnya selalu berspesan untuk belajar sunguh-sungguh, karena di Indonesia buku-buku , dan tempat bertanya terbatas. Jadi harus menggunakan waktu sebaik mungkin sewaktu berada di negeri Paman Sam ini.
Itulah yang membuatnya selalu belajar tak kenal waktu, bahkan di hari Sabtu dan Minggu pun ia masih berkutat dengan berbagai bahan perkuliahan. ”Saya belajar bukan berdasarkan jam, tapi harus sampai bisa,ujarnya. Selain itu sistem Drop Out jika tidak memenuhi standar IPK diatas 3,00, membuatnya teguh belajar agar tak di pulangkan ke Indonesia.

Setelah lulus S2, dikala temannya yang lain disibukkan kembali mengajukan beasiswa S3 di Universitas yang sama hal itu tak dialaminya. Konon lagi saat itu beasiswa semakin berkurang.”Nah S2 saya sudah menamatkan mata kuliah di S3. Jadi semua mata kuliah wajib S2 sudah saya selesaikan,” katanya. Hal itulah yang membuatnya secara langsung diterima menjadi mahasiswa S3 di universitas itu.

Kemudahan yang ia lalui merupakan hasil dari belajar yang tek pernah mengenal waktu. Dalam jangka waktu tujuh tahun ia menamatkan S2 dan S3 nya. Ia pun kembali ke Indonesia.

Pilihan dan Cita-Cita

Profesi sebagai pengajar ini spertinya bakat alamiah yang ada dalam dirinya. Hobbi mengajar telah ia rasakan semenjak ia sekolah dasar. Dari kecil ia selalu menggantikan gurunya jika mereka tidak hadir. Bahkan kala SMP jika sang guru berhalangan hadir ia dipanggil dan diajarkan sang guru, lalu berkat hobinya itu ia kembali mengajarkannya langsung ke teman sekelasnya. ”Waktu itu saya bangga banget bisa berada didepan kelas mengajar, saya bangga banget jadi guru”kenangnya. Dan karena menganggap bekerja sebagai pengajar membuatnya belajar terus, dan mengikuti perkembangan zaman itu pula yang membuatnya menambatkan hati menjadi seorang dosen.

Sebagai pengajar di Fakultas Pertanian Unri ia tetap berpegang teguh tuk mengabdikan dirinya hanya pada mahasiswanya di universitas tersebut. ”Fokus saya ke unri, biarlah gaji saya kecil aja, karena saya yang melamar jadi dosen jadi terimalah nasib itu,”katanya tegas.

Selain sebagai dosen ia juga mengabdikan diri untuk membina mahasiswa yang berekonomi lemah di sebuah lembaga bernama Kompos yang ada di Fak.Pertanian Unri.

”Berdirinya kompos karena di motivasi dari mahasiswa yang tidak mampu. Bagaimana mereka menamatkan kuliah dengan program kompos,” ujar perempuan single parent ini.
Di Komposlah ia mengajarkan mahasiswa yang kurang mampu untuk berkreasi, mengembangkan produk pertanian, untuk dijual sebagai penghasilan, bahakan menjadi bahan penelitian skripsi mereka sendiri.

Jadi wajar jika wanita yang selalu memperjuangkan mahasiswa kurang mampu di Fakultas yang ia bina selama ini. ”Sekarang saya bukan ga pingin Profesor, saya ingin menolong pegawai, ponakan, anak-kuliah saya. Saya ga boleh egois. Memperjuangkan mereka khususnya bersekolah,” ujarnya.

Cita-cita yang begitu mulia dari seorang perempuan yang rela hidup sederhana demi orang lain yang tak mampu. ” Semua itu saya lakukan karena rasa syukur saya terhadap hidup saya dan anak saya yang berjalan tanpa rintangan berarti,” ujarnya.

No comments:

Post a Comment