Thursday, November 24, 2016

Jalan jalan dari Pekanbaru ke Palembang



Jembatan Ampera Malam Hari


Desember 2015, cuti telah disetujui, rencana liburan berkumpul bersama keluarga telah disusun. Eh semua meleset Ay bilang harus ke Palembang. Jadilah aku diboyong ke Palembang. Ga apalah nemanin suami sebagian dari iman, gubrak.

Ternyata eh ternyata tak ada penerbangan langsung Pekanbaru-Palembang, ih ga hebat banget ya. Malang banget deh tinggal di Sumatera ini apa-apa harus pake transit. Sile pilih transit Batam or Jakarta. Kita pilih transit Hang Nadim Batam. Tanggal 28 kita berangkat menuju  Batam penerbangan menggunakan citilink, mahal banget deh tiket jelang tahun baru. Penerbangan Pekanbaru-Batam-Palembang selama satu jam jadi totalnya kita mengudara 2 jam.

Tiba di Sultan Mahmud Badarudin II udah sore aja, langsung kita cek bagasi. Huaa rusuh banget, banyak tempat yang kosong disepanjang pengambilan bagasi tapi semuanya pada menumpuk dan berdesakan di mulut keluarnya barang-barang keluar. Satu dan yang lain saling teriak itu barangmu itu barangku. "Woles woi!. Agak terkejut sih secara di tempat lain ga begitu amat santai aja.

Soo, kita naik apa donk ke hotel?

Transportasi

Di Bandara kita bisa milih ada dua jenis taksi punya Angkasa Pura dan AURI, secara kan emang dimana mana di dominasi ya taksi Bandara. Disini juga begitu. Tapi taksinya ga mahal mahal amat argonya dibanding Pekanbaru.
Rute busway

Kalau jalan sana-sini terkadang kami juga pakai bluebird, disini banyak taksi kok, ya lumayan juga buat kantong. Perdebatan suami yang selalu maunya simpel ga ribet ya selalu pakai taksi. Kalau aku sih prefer angkutan umum kayak angkot, becak, dan lainnya.  Naik angkot harus waspada karena katanya banyak maling, ongkosnya Rp 4000,- sekali jalan dna tanya dulu arah dan tujuan.  Kalau becak pandai pandai nawar. Berdua kita tawar Rp 20.000,- tapi ya gitu deh becaknya kecil jadilah Ay duduk dibawah. cukup sekali deh. Yang enak itu naik Trans Musi nyaman kalian bisa lihat rutenya di halte. Naik bus ga recomended maling banyak banget. Ok sudah yah aku lanjut ceritanya cussss.

Kami menginap di Red Hotel Planet, murah, nyaman dan bersih. Tapi berhubung jelang tahun baruan harga agak meroket, kalau pengen murah pakai kartu kredit or debit Mandiri dan daftar member. Potongannya lumayan deh. Oh ya hotel ini recomended deh lokasinya ditengah kota, JL Sudirman kemana-mana dekat, ke Jembatan Ampera.

Suasana di dalam Bus


Ay sedang menunggu bus datang di halte

Kita pengen makan dekat jembatan, tapi bingung dimana ya itu Jembatan Ampera. "Mas dimana ya jembatan ampera?" tanyaku. Antara dijawab dan tidak sama resepsionis duh, peta juga ga ada. Harusnya Dinas Pariwisata meniru negara luar setiap hotel disediakan peta, jadi wisatawan ga pada bingung. Ya kan juga sekaligus promo daerah nambah income.

Jadilah kita makan dekat hotel, makan sate dan soto. Mak jang mahalnya. Sate ayam harganya 30ribu euy, cuma 8tusuk, ayam loh soto kambing 40ribu perasaan makan se Indonesia yang paling mahal tu di Riau itu di pinggir jalan loh. Huhhhhh, ya sudahlah.

Hal yang pertama ga lupa dilakuin adalah ngunjungi teman teman Penghubung Komisi Yudisial Palembang. 


Bersama Ummi Zaimah, Martindo, Bang Erland dan Martindo

Jakabaring

Jakabaring terletak dibagian hulu Palembang. Pembangunan kota ini diperluas di bagian hulu, ya ampun suer deh iri ngelihatnya. Riau tertinggal,  bangunan dari Sea Games terawat dan jadi tempat wisata. Beda dengan Riau yang tak terpakai lagi dan semuanya rusak sisa peninggalan PON. Juga akan dibangun MRT ya Allah kapan ya di Riau. Iri banget deh Pak Gubernur, Pak Walikota hayoo donk.
Di depan Jakarabaring

Di Jakabaring kami melihat stadion, danau dan foto foto aja deh udah. Makasih banget deh tim sukses Bang Erland dan Martindo yang nganterin ke Jaka Baring dan Mesjid Chengho.


Mesjid Cheng Ho

Kalau ke Jakabaring sekalian lewatin ke Mesjid Chengho, nuansanya serba merah, namun kalau kesana ga ada sih penjelasan tentang sejarah mesjid itu sendiri . Masjidnya tampak bersih, namun disekitar pekarangan kurang perawatan . 


Masjid tampak dari gerbang samping





Mesjid Cheng Ho tampak depan 



Jembatan Ampera

Ini merupakan titik nol antara hulu dan hilir Palembang, itu sih kata Tindo kalau salah marahin dia aja ya. Di bawah jembatan ini yang seru, sebenarnya apalah arti sebuah jembatan yak. Disini kita bisa makan di dalam perahu, pada siang hari. Di dekat jembatan jangan lewatkan ada Benteng Kuto Besak, ada pula Museum dan juga dekat dengan Mesjid Agung Palembang.

Jembatan Ampera 


Bisa menggunakan kapal kecil untuk menyebrang ke Pulau KAmaro


Kami sempatkan makan pindang diatas kapal/warung terapung
Museum Palembang 

Pasar 16 Hilir

Semuanya itu sekali mendayung aja keliling hanya berjarak 200 -300 meter satu ddengan yang lain. Tak lupa juga dekat dengan Pasar 16 Hilir. Dipasar bisa menjumpai penjual songket walau ga terlalu banyak, karena yang banyak di belakang Ramayana kabarnya tapi aku ga kesana karena songket hadiah nikah aja banyak belum diapa apain. Pasar 16 ga recomended buat beli oleh oleh, kalau mau beli kemplang atau amplang belinya di Pasar Cinde saja, dari Jembatan Ampera bisa menggunakan Trans Musi atau becak dan angkot.


Pempek dan Martabak Har

Aku sih kurang suka ya kalau martabaknya, yang jual banyak banget dengan nama, merk dan plang nyaris tak berbeda. Harganya Rp 13.000,- disitu juga bisa pesan nasi samin dan semua jenis nasi dan kudapan Arab. Nasi Saminnya sih lumatan kalau ini letaknya masih di jalan Sudirman.

Nah kalau pempek beda lidah beda rasa, kami belanja ke pempek candy mei mei, dan aku sama sekali tidak suka rasanya. Lebih enak pempek yang dijual dipasar. Makanya aku lebih memilih pempek Raden. Kata orang Palembang sekarang ini pempek Candy itu membuka cabang dimana-mana bisa franchise. Mungkin ini yang mengurangi rasa.

Untuk ke Jembatan Ampera, Pasar Hilir 16 dan Martabak Har dari Red Planet bisa sekali jalan saja naik angkot warna merah atau naik bus Trans Musi.

Pindang

Aku tak begitu suka, namun coba paksain merasakan makan pindang di rumah makan terapung alias kapal yang menjual menu makan siang. Dan ternyata enak banget rasanya, seperti tomyam abis dan malah lebih enak. Jadilah kami berburu Pindang. Dan kuberanikan memakan tempoyak pindang di kedai favorit Tindo dna Bang Erland. Tempatnya sih biasa aja, kelihatannya, namun antrian panjang, mobil dan motor.



Disini kita disajikan sambal mangga, plus lalapan yang super lengkap mulai dari kemangi, petai, terong, daun jambu bol dan macam lagi. Yang luar biasa maknyus tu sambalnya, dan pindang tempoyak. Tak ada sedikitpun rasa durian menyengat. rasa asam durian yang halus pulus kuah pindnag seperti tomyam, duh nulisnya aja masih kerasa lidah ngecess. Beda dengan pindang yang biasa aku rasaain dimana mana itu ternyata fake, palsu dna disini rajanya. Ini makanan terbaik yang harus dicoba dan wajib.




Pindnag Gabus

Lalapan Palembang 




Pindang Patin


Kulineran kami lakukan dibeberapa tempat seperti mie celor, laksan dan banyak lagi. Palembang ternyata surga kuliner, dan kita harus berani mencoba beragam menu baru disini. Tapi kami tka mengunjungi Pulau Kamaro karena fisik sudah sangat lelah dan sakit mendera di hari akhir. Tap apalah mungkin nanti lain waktu. Kalian harus menjadikan Palembang list berburu kuliner ya travelers.
































Wednesday, September 7, 2016

Mereka pergi: Mom and Baby

"Ma ikut,"pintaku mengejar balon terbang yang meninggi menuju matahari. Mama hanya  tersenyum. Aku terbangun. 
Mama mau dibawa kembali ke Penang tuk berobat. Kali ini harus dipasang selang dari saminh untuk memperbaiki kandung kemihnya. 
"Ika, Mamak ga mau berobat disini (Indonesia)." Itulah pintanya. 6tahun berobat belakangan Ia nyaman jika berobat di Penang. Mutar otak mencari amunisi. 
Mama sudah banyak mengeluarkan uang berobat. Yang pasti sebulan minimal sejuta. Belum lagi dulu, saat di rumah sakit sminggu 10juta. Kami disana selama 3tahun, bayangkan semua tabungan terkuras habis. Itu sudah pakai asuransi. Ke Penang minimal 40jt belum termasuk ongkos dan makan, karena mama bukan sakit tetekbengek. Maksudku sakit gampang yang sekedar suntik sembuh. Cancer cerviks dan ini sudah kali ketiga ia menyerang. 
Akhirnya Papa dan Mama berangkat, aku menyusul tapi ternyata pesawat langsung Pekanbaru-Penang tak ada. Jadilah mereka berdua saja. Pengobatan berjalan lancar. 
"Ika tanggal 19kita ke Penang, kali ini kita berdua aja ya, ko belikkan dulu jaket agak tebal, termos kecil dan tas agak besar yang bisa masuk bagasi," isi telpon Mama. 
"Ia mak, sehatlah Mamak pigi kita ya, aku cuti. Ada kok kemaren jaket waktu aku ke Ausie tas semua ada ga usah mamak pikirkan hal kecil kecil, semua Mamak pikirkan,"pesanku.
Ia pun tenang, ia bercerita kebiasaan baru yang suka makan roti gandum dan milo. Panjang betul ceritanya dan banyak lagi pesannya yang tak bisa kusampaikan di tulisan kali ini. 
Pagi subuh aku sudah siap siap akan berangkat ke Rengat, memantau perkara. Tiba tiba Papa menelepon dan menyuruh pulang. Tak pernah Papa menyuruh pulang, biasanya kalau sakit sikit saja pasti mama udah meremgek menyuruh aku pulang. 
Tapi aku belum ngeh, banyak lagi telepon dari yang lain. Ada apa ini, akupun sadar seminggu aku tak bisa tidur, sesak, badan sakit. Belum lagi mimpiku. 
Langsung aku telepon Papa kembali, rencana kerja kami batalkan dan langsung nyari tiket pesawat. Tuhan memang baik, satu bulan sebelumnya aku cari tiket semua full. Tai kali ini ada dua seat, padahal seminggu lagi lebaran.
Aku sudah tak sadar hanya menangis di Pesawat dan Kualanamu-Siantar.
Sampai di rumah sakit Horas Insani Siantar, aku melihat mama terbaring. Matanya tertutup, saat aku datang nafasnya sesak. Ia tak lagi bicara. Tuhan aku hanya bosa berdoa.
Bou Inon menenangkanku, dia memang selalu ada dan jadi sahabat terbaik mama. Ia adalah kakak Papa. 
Semua sudah membaca alquran buat mama. 
28 Juni 2016 waktu berjalan lambat. Aku menjalankan pesan Mama. Jangan bawa ke ICU, doakan Mama jangan tinggalkan sedikitpun disamping Mama. 
Semua berujar ikhlaskan ka!. Tahu gimana sakitnya yang Mama rasa dan lamanya ia berjuang. Semua menunggu keluarga Mama. 
Pukul 00:30 semua keluarga berkumpul dan meminta maaf kepada mama. Ia terbangun dan melihat kami semua. Lalu koma kembali. 
Semua keluarga berusaha ikhlas tapi sepertinya berat sekali Mama pergi. Ada apa ini? Semua bertanya. Keluarga tidur bergantian. Ruang VIP 9penuh luar dan dalam. Ayat suci al quran tak henti bersahutan. 
Akhirnya jelang subuh Papa memanggil ustadz atas saran keluarga. Ustadz mendoakan Mama jika ingin sehat sehatlah jika akan pergi maka pergilah dengan tenang ujar ustadz. 
Namun tak ada reaksi dari Mama, dokter kembali memeriksa. Akupun sholat Subuh. 
Usai subuh kusebutkan disamping Mama "Ma aku tahu apa yang Mamak risaukan. Pesan mamak pasti kulaksanakan, jaga si Yoga dan Doni kan. Aku anak perempuan satu aku kakak orang itu,"ujarku. 
Tiba tiba Mama membuka mata, tanganku yang menggenggam erat jarinya semakin ia pegang erat. Dilihatnya wajahku, ia berkedip kedip. "Ia Mak aku jaga orang itu," jawabku. Kembali ia memutar pandangan ke arah Papa. Melakukan hal yang sama dua kali kepadaku dan dua kali ke Papa. Iapun mengarah pandangan ketengah dan aku membisikkan sahadat begitu pula semua yang ada di ruangan. 7kakak dan adik Mama beserta keluarga dekat lainnya. Mama menghembuskan nafas terakhir 05:59-29Juni16-22-02-1957. 59 tahun. 
Tak ada airmata aku tal boleh menangis saat membimbingnya pergi, setelahnya akupun terkulai lemas ke lantai. 

Kehilangan kedua
Kami adalah pasangan yang tak pernah mau dengar kata orang. Semua kami rencanalan tanpa peduli pertanyaan oranglain. 
Kali ini kami kami merasa sudah siap punya baby. Yah yuk kita mulai. 
Pergi ke dokter dan diperiksa, "Ibu kandungannya sehat sekali, tapi ini bapak apain nikah 2 tahun kok naik30kg," canda dokter.
Aku memang super cuek tiba tiba lihat kalender period loh kok belum haid ya. Ah biasa kali ya.
6hari telat aku un coba tespek. Garis dua samar. Wah hamil ga ya tapi emang rada lain sih kondisi badan. Udah lah biarin aja lihat nanti. 
Ternyata di tes beberapa kali tetap garis dua dan samar. Senang donk tapi masih tetap kurang yakin. Memastikan ke dokter dan ia mengatakan ia benar tandanya.
Beberapa hari berselang, Ntah kenapa feeling ga enak. Ay emang bang toyib kan jarang pulang. "Biasa aku tak kesah ia pergi. Kali ini aku larang. 
"Diminta mentri cha narsum," katanya. Ya sudahlah aku terserah saja. 
Belakangan memang pikiran masih suka kalut maklum masih 2 bulan mama pergi. Aku masih keteteran ngurusin segala sesuatu rumah Siantar. Apalagi jadi kas dua rumah tangga. Belum lagi masih suka nangis malam kalau sendiri. Dibawa sholat dibawa ngaji juga nangisnya makin jadi. Aku memang dekat sekali ama Mamak maklum di rumah cuma kami berdua bidadarinya yang lain cowok semua. Jadilah ia teman kelahi, menangis, curhat tak berhenti. Bukan aku yang curhat tapi Mama😄. Aku memang lebih suka cerita ke diary.
Jadilah Senin(05/09) perut rada aneh, selangkangan rasanya panas banget. Aku bawa santai, pulang kerumah naik taksi karena ga boleh bawa kendaraan. Aku lemas.
Malam mulai ada darah menetes, aku bedrest aja. Hati makin ga karuan. Bawa tidur dan subuh bangun. 
Keluarlah si baby dalam bentuk yang ga usah disebutin ya. Aku yakin dia sudah ga ada, tapi Kak Dini suruh memastikan ke dokter biar kelihatan bersihnya kandungan. Aku hanya nangis seharian di rumah. Suami masih di Jakarta. Krang kring krong telpon ga ada yang aku angkat. Shock melihatnya keluar. 
Subuh landing  aku dilarikan Ay ke RS Awalbross ama
"Ya ibu dia sudah ga ada, semua jaringannya sudah keluar,"ujar dokter. Keguguran banyak faktornya, ini sudah hebat baru program langsung jadi. Yah mungkin dokter menenangkan aku yang menahan linangan airmata. Ia menyarankan agar diperiksa dua minggu kedepan memastikan kandungan bersih. 

Usia 30 means kehilangan dua orang yang dicintai dalam jarak dua bulan. 
Ya harus kuat life must go on. 
 




Thursday, January 14, 2016

Sembuh dari Kanker Serviks

Kehidupan Ketiga

Sebenarnya aku akan menulis semua cerita tentang Mama dan kesembuhannya menghadapi kanker cerviks. Tapi aku rasa ini sangat mendesak untuk diinfokan, kepada para penderita kanker karena belakangan ini banyak sekali yang bertanya tentang ini padaku. 
“Bagaimana mama bisa sembuh?”
“Pakai apa?”
“Bagaimana caranya?”


Ulangtahun Mama ke 58 tahun dan Pernikahan Papa & Mama @2015


Kabar itu datang di tahun 2010, mama pendarahan hebat aku baru saja lulus kuliah. Dan mau tak mau aku harus mengurus mama, karena anak perempuan satu satunya. Kami tinggal di Pematang Siantar, Sumatera Utara.  Berdasarkan cek laboratorium RSUD Djasemen P Siantar mama menderita ca cerviks stadium III A. Tentu aku shock.
Keluarga berkumpul mama, masih ketawa bersama keluarga lain dan mengatakan.
 “Ga apa-apa?” itu kata Papa.
Spontan aku jawab “Ini bahaya Pa, Mama bisa meninggal ini penyakit parah.”
Mama shock semua keluarga diam. Papa marah dan menasehatiku.
“Kenapa bilang gitu ke depan Mama ka?”.
Mama pertama kali sholat Ied setelah sembuh 2012
Mama harus tahu pa ini bukan penyakit main-main. Menurutku tak ada penyakit yang perlu ditutup tutupi, Mama harus menerima kenyataan ini sepahit apapun, dan dia harus tahu.

Kami mencoba membawanya ke shinse tapi shinse menolak dan menyatakan tidak bisa disembuhkan lagi. Lalu kami bawa ke dokter lain ia divonis hanya berumur 3 bulan.
Aku hanya bisa diam menangis sendiri. Tak mungkin aku menangis di depan Mama, Papa apalagi adikku yang paling kecil Yoga masih kelas 2 SMP. Aku putuskan Mama harus dibawa ke Medan, itu juga usulan Tante Ras (adik Mama).
Tak ada yang tahu penyakit ini, aku sama sekali awam. Apa lagi keluarga besar.
Sampai di Rumah Sakit Adam Malik berbicara dengan tetangga sebelah kamar, akupikir hanya sebulan di rumah sakit. Ini tidak sebentar dek kami sudah enam bulan di rumah sakit. Aku tambah shock.
Disinilah penentuannya dokter bertanya apakah mama akan di kemoterapi dan radiasi. Keluarga harus memutuskan.
Papa bilang tidak usah karena banyak yang meninggal akibat kemo. Aku kehabisan akal seluruh temanku ku tanya yang orang tuanya memiliki penyakit sama. “Jangan kemo, ibuku meninggal habis kemo,” kata temanku.
Merenung menangis, sendirian di kantin rumah sakit dan bergoogle sana-sini, aku temukan multivitamin Noni Tahitian Jus. Sebagai supporting kemoterapi dan radiasi.
“Pa Mama harus di kemo dan radiasi,” jawabku.
“Ya terserah, kalau memang begitu keputusannya. Tak ada tempat berunding kami hanya berdua Papa di rumah sakit. Dengan vonis mama meninggal, hanya berumur 3 bulan, tidak bisa di tolong aku percaya meski sempat mengutuk Tuhan.
Kini Alhamdulillah mama sudah 6 tahun menjadi survivor ca cerviks. Bahkan dia sempat kembali mengajar, sehat 100 %.
Perawatan medis harus dijalani dan disupport Tahitian Noni juice. Ditambah pola makan istirahat dan yang terpenting dukungan keluarga. Sangat berat kami sangat lama di rumah sakit dna pemulihan kesehatan mama selama 2 tahun, bahkan hingga ca itu datang lagi dan pergi lagi dan hingga kini.
Aku berbagi ini karena terlalu banyak yang bertanya, mudah mudahan dengan membaca ini yang menderita penyakit apapun bisa terbantu. Dan sekedar berbagi.
Liburan Tahun 2015 keliling Sumatera Utara
                                                                                                To be continue

Jika ingin bertanya bisa hubungi email di yofikapratiwi@gmail.com

Thursday, December 10, 2015

Pekanbaru-Bogor-The Highland Park Resort



Indian Camp
Ini ntah sudah kali keberapa aku mengunjungi Bogor, namun kali ini cukup berbeda. Menikmati Bogor dari sebuah resort yang cukup unik, menyejukkan, damai, kamar yang sangat unik, dan fasilitas yang mengagumkan. Yang mau liburan, bahkan honeymoon murah meriah dekat namun berkesan bisa kesini nih. Bahkan saat posting foto, banyak yang nanya aku lagi di Negara mana. Hellow Indonesia itu indah lo, aku di negara kita Indonesa kalau kata orang Sunda mah, yuk simak review aku ya. 

Bersyukur tiket tak terlalu pagi, thanks God terimakasih Komisi Yudisial kasih Garuda yang terbangnya jam 10. Rabu pagi (11/11) di jemput Predi aku menuju bandara, dengan Bang Darwin. Terimakasih ya Pred. 

Ini sebenarnya bukan agenda vacation, tapi acara capacity building kantor. Sampai di Jakarta kami menunggu rombongan lain yang berada dari 11 propinsi lainnya. Kami akan berada di satu Bus yang sama, jadi harus tunggu-tungguan. Yang kasian itu rombongan yang berasal dari Timur, Kupang pesawatnya sangat pagi, jadi harus menunggu juga rombongan yang terakhir tiba. Beginilah kalau rombongan, semua harus serba kebersamaan.

Nah tipsnya nih yee kalau berangkat berombongan dengan hemat en murah:
  1. Bawa air, karena panitia belum tentu menyiapkan air sesuai kebutuhan kalian, dan kali ini aku lupa membawanya. 
  2. Bawa makanan untuk mengganjal perut sapa tahu kita adalah rombongan pertama tiba harus nunggu rombongan the last
  3. siapkan stamina tidur yang cukup, agar menuju lokasi yang bisa jadi jauh kita tak hanya menghabiskan waktu dengan tidur. Sayangkan tak menikmati suasana.
Akhirnya semua tiba dan kami berangkat. Jika kami tidak dijemput bisa menggunakan Damri menuju Bogor dan nanti turun di stasiun ongkosnya limapuluh ribuan gitu deh. 

Highland PArk Resort Bogor adanya di jl. Curug Nangka Kampung Sinarwangi. Perjalanan Jakarta-Bogor terasa sangat lama, sudah sampai Bogor juga jauh sekali. Semua rombongan pada ngedumel ditambah macet dan jalan Bogor yang kecil dan sempit pul macet. Ampun deh. 

Sekitar 3 jam lebih dan kita sampai di lokasi. Sampai sudah snagat sore, dan luar biasa pemandangan yang begitu indah. Rombongan cewek menginap di Indian Camp yang letaknya di ujung, untuk menuju kesana kita menggunakan car golf, atau mobil terbuka. 

Menuju kamar kami Indian kami melalu, Lapangan golf, lalu kolam renang, dan Mongolian camp, kebun bunga, dan ranch kuda. 
Suasana kamar with roommate







Dikamar begitu unik, dengan nuansa Indian seluruh ruangan dilapis kain berwarna coklat, semua furniture serba indian dan sebuah kamar mandi kecil. Kita bisa menikmati suasana langsung dibawah Gunung Salak, menikmati sunrise dan sunset dengan suasana dingin. Wahana bermain air, lapangan futsal juga tersedia. 

Bentuk kubah camp Indian
Bagi saya ini penginapan yang recomended, harganya sih sekitar 1,6 juta/night tuk room standar. Tapi sebanding deh dengan fasilitas, kalau ramai yah ga begitu terasa. Hanya kekurangannya air panas yang kadang panas dan kadang tidak dan makanan yang kurang begitu enak dilidah untuk makan siang dan malam. 

Saat berada disana sangat banyak yang melakukan kegiatan dari berbagai instansi swasta maupun pemerintah. Ruangan saat pemberian materi juga ada disana, dan cukup nyaman. Dihari akhir acara outbond dilaksanakan yang dipimpin tim pihak resort. 


Dan bagi yang ingin menginap dan hemat persediaan makanan harus dipoolin soalnya jauh dari mana-mana. Selamat berlibur.



Wahana bermain air foto by Martindo



Bang Bambang Irawan, dari dining room kita  bisa langsung melihat ke kolam renang
foto by BI



Ruang rapat foto by Martindo

Wednesday, December 9, 2015

Korban Meninggal Akibat Asap Karena Kebakaran Hutan Dan Lahan di Riau


Jerebu Pengintai Maut

Korban yang meninggal akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau

Asap pagi ini sangat pekat, langit menguning, mataku tak bisa terbuka. Dua kali kuhentikan sepeda motor untuk menyeka air mata yang terus menetes, aku hanya bisa memandang 5 meter kedepan. Kuperlambat laju sepeda motor, hanya 10km/jam, masker N95 yang kupakai masih terasa tembus oleh asap. Seisi ruangan kantor menguning.  Kondisi Riau yang diselimuti asap ini akibat kebakaran hutan selama 18 tahun terakhir yang tak kunjung teratasi.

Oleh Yofika Pratiwi Saragih

Dua minggu mengungsi ke hotel, asap telah mengisi segala penjuru masuk keseluruh celah rumah. Masih saja tenggorokan terasa sakit, bernafas susah, akhirnya kuputuskan ke dokter. September (30) Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Pekanbaru Propinsi Riau berwarna hitam berada di level berbahaya yakni diangka 500 selama dua mingggu terakhir. “ Harus istirahat dua hari, kurangi aktivitas,”jelas dokter saatku berobat di Klinik Husada jl. Adi Sucipto Pekanbaru.


ISPU menunjukkan kondisi udara di PEkanbaru berbahaya
Medio Oktober (20/10) kondisi Bumi lancang kuning tak jua berubah, sudah lima hari Bandar Udara Sultan Syarif Qasim II Pekanbaru ditutup jarak pandang hanya 100m, konsentrasi partikulat PM10 di Pekanbaru 533 artinya berbahaya. Kondisi udara sempat berubah saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) datang ke Riau dan menyambangi Kabupaten Kampar, Riau, Jumat (9/10). Kondisi udara turun ke level tidak sehat namun, asap kembali menggila. Pagi hari (19/10) menuju kantor yang berjarak 2km dari rumah, asap pagi ini sangat pekat, langit menguning, mataku tak bisa terbuka. Dua kali kuhentikan sepeda motor untuk menyeka air mata yang terus menetes, aku hanya bisa memandang 5 meter kedepan. Kuperlambat laju sepeda motor, hanya 10km/jam, masker N95 yang kupakai masih terasa tembus oleh asap. Seisi ruangan kantor menguning.  Sesak tenggorokan kembali kurasakan padahal waktu bangun baik baik saja. Kuputuskan membeli okseigen setelah menghirup oksigen murni beberapa menit, baru terasa lega. Akhirnya kuputuskan melakukan pendataan saja di Kantor.

Akibat asap sudah empat. orang meninggal dalam 3 bulan terakhir akibat terpapar asap, Muhanum Anggriawati (12th), Muhammad Iqbal (31th), bayi N (1,8bulan) dan Ramadhani Lutfi Aerli (9). Paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau memang bukan menjadi penyebab utama kematian di Pekanbaru. Namun asap memperparah kesehatan masyarakat yang memiliki penyakit bawaan dan memperburuk kesehatan yang dalam kondisi fit. “ Dalam tiga bulan mulai Juli kasus Ispa (Infeksi saluran pernafasan atas)  ga ada yang dirawat inap. Tetapi sakit Asma dan penyakit lain yang dipicu asap meningkat, Agustus 20 %, September 40 %. Yang paling terberat ada dua kasus yang pertama Bapak I berumur 31 tahun  asma yang yang dipicu asap dan anak N memiliki riwayat pneumonia,”ujar dr. Rumatha Veralisa   (Humas RS. Awal Bross cab. Panam, Pekanbaru).


Lahan terbakar di Pelalawan, Riau pada tahun 2013



Riau diselimuti asap ini akibat kebakaran hutan selama 18 tahun terakhir yang tak kunjung teratasi. Koalisi Penyelamat Sumber Daya Alam (PSDA) Riau dan data hotspot Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau) Januari-Agustus tahun ini total 5.869 titik api di lahan HTI, sawit dan hutan lindung dan lahan gambut.  Dari 5.860 hotspot 4057 di gambut.




***
Di rumah berukuran enam meter kali enam meter saya menjumpai Musriati Lubis (32tahun). Ia menggendong anak perempuannya, menaikkannya ke odong-odong permainan anak yang lewat di depan rumah. Lalu pagi itu (17/10) kami berbincang duduk di tikar bersama Muhklis sang suami. Ia ibu Muhanum Anggriawati, salah satu korban yang meninggal akibat paparan asap.
Jumat akhir Agustus Hanum pulang sekolah, dari jendela rumah ia melongok “Mak hangat badan kakakni,”ujarnya dengan logat Melayu. “Ia nak, masuklah nak, masuklah nanti minum obat biar lega,” jawab sang ibu.

Menurut perempuan Mandailing ini anaknya tak memiliki riwayat penyakit. Hanum lahir dengan kondisi normal beratnya 3,3kg. Lahir langsung ia susui dan Hanum muntah. Agak khawatir dengan kondisi ini Ia membawanya ke dokter. “Biasa tu bu, ada anak yang habis menyusu muntah, itu kata dokter,”jelasnya. Tak kunjung sembuh muntah, ia kembali membawa anak pertamanya ke RS Ibnu Sina karena berat badannya tak jua bertambah. “Dua hari, kami disuruh pulang, hasil lab darah dan semuanya baik, dia normal dan sehat. Itu penjelasan rumah sakit, “terangnya lagi.

Foto Hanum saat masih kecil
Sejak lahir 25 Agustus 2003 tumbuh kembang Hanum normal, namun ia tak memiliki nafsu makan yang kuat sehingga tubuhnya kecil dari anak lainnya. “Kadang capek kesana kemari tapi ga ada hasilnya, umur 5 tahun kami rontgen hasilnya semua baik. Dia sehat dan Hanum harus sekolah, ada yang bilang gini, ga apa tu nanti kalau udah besar badannya kembali,”ujar Musriati. Kakak dari dua orang adik ini pun bersekolah di SDN 171 Tenayan Raya, Pekanbaru, dan ia tak pernah sakit lagi, hanya demam biasa saja sesekali. “Waktu asap tahun lalu dia batuk, diasap dua kali sama Bidan sembuh (pemberian asap untuk membantu pernafasan, red), jelasnya.

Demamnya reda, tapi malam hari ia kembali demam. Pagi hari dia memaksa bersekolah, ia minta rambutnya sisir Ayahnya, itu kebiasaan Hanum. Lebih rapi katanya,  namun dilarang untuk berangkat sekolah. “Ga usah sekolah ya sayang, biar Mamak permisi kan,” ujar Musriati.

Malam hari dia berdehem batuk sesekali. Minggu (30/08) batuk hanum sekamin parah. “Hukkkhukkhukk,” suara batuk Hanum menyambung. “Kenapa nak?,”tanya Sang ibu. “Ga tahu mak, tepuk kakak Mak (meminta punggungnya ditepuk,red), bantu kakak Mak,” kata Hanum panik.
“Bang bawalah dia ke Bidan biar diasap,” pintanya ke suami. Saat diperiksa Bidan tak menyarankan untuk dilakukan pengasapan karena masih batuk biasa. Dan Hanum diberikan obat untuk dimakan saja.
Setelah itu dia bernafas seperti biasa, siang hari Hanum bernafas normal seperti biasanya. Malam hari kondisi Hanum memburuk. “Batuknya duakali hukkhukk kayak orang tersedak dan sambung-menyambung, berjejer sesak gitu. Dia minta jendela dibuka. “Buka lah mak, katanya. Ga boleh nak asap,” jelas sang ibu. Asap Pekanbaru yang pekat membuat masyarakat harus menutup seluruh lubang udara di rumah dan hanya mengandalkan alat pendingin ruangan. “Kami hanya memakai kipas angin, satu di dalam, satu diarahkan keluar untuk mengusir asap,”jelas Mukhlis.

Kondisi udara diakhir Agustus memang semakin parah kebakaran lahan menyebabkan asap yang tak kunjung berhenti. Budaya membakar lahan sudah menjadi tradisi di Riau. Tahun 2007 saya melakukan liputan ke Kampar Kiri Riau,  soal kebakaran lahan Riau. Menurut Ninik Mamak (Ketua Adat, red) budaya membakar dilakukan sejak dulu untuk membuka lahan. Menebang semua pohon  lalu menumpuknya di tepi lahan. Ini dilakukan agar api tidak menyebar ke lahan orang lain dan pembakaran ditunggu hingga lahan bersih dan api padam. Timbunan pepohonan hasil tebangan sebagai pembatas agar api tidak menyebar, itu sangat ampuh. Dan lahan yang dibakar juga tidaklah luas.

Namun kini pembakaran lahan dan hutan dilakukan serampangan dengan jumlah area yang cukup luas ditambah lagi dilahan gambut. Pada persidangan kebakaran lahan PT Adei Plantation di PN Pelalawan 14 April tahun lalu Prof. Bambang Rahardjo (Dekan Fak. Kehutanan IPB) dalam persidangan menjelaskan “Perusahaan sengaja membakar lahan dilakukan agar menaikkan PH tanah menjadi subur, lahan gambut tidak baik untuk ditanam, harus dipupuk. Biaya pemupukan 1ha sekitar 40juta. Dengan membakar tanah menjadi subur murah,” jelasnya. Alasan inilah penyebab maraknya kebakaran hutan dan lahan di Riau. Selain korporasi adapula perambah. Sejauh ini Polda Riau bahkan sudah menetapkan 67 tersangka, 63 perorangan dan 4 korporasi, 27 perkara yang sudah akan masuk tahap persidangan, 28 perkara tahap penyidikan, 16 tahap 1 dan total jumlah lahan yang terbakar di Riau seluas 5. 906.

“Ini kegagalan pemerintah dan gambaran buruk tata kelola perizinan dan sumber daya alam. Kita sudah melakukan gugatan  dan membuka posko bersama Walhi, Jikalahari. Lembaga Adat Melayu Riau, dan koalisi masyarakat sipil lainnya, minggu ini kita masukkan notifikasi untuk gugatan Citizen Lawsuit. Antusiasme masyarakat untuk melakukan gugatan besar mengambil formulir namun dalam pengembalian kurang. Kami harapkan masyarakat tidak hanya mengeluh di media social  tapi ikut ambil bagian dalam upaya hokum,” ujar Boy Even Sembiring (Walhi Riau)
***
Malam jelang dibawa ke rumah sakit, Hanum sangat rewel. Dia minta digendong, jam 12 malam ia diminta dilakukan pengasapan. Karena sudah dini hari, Ibunya tak bisa menurutinya, dengan kain basah ia menyeka wajah anaknya agar tak terlalu sesak.  Bangun pagi hari, “Mak kakak lihat banyak orang pakai jilbab kuning ke rumah kita. Hari ini kakak mau dijalin tinggi rambutnya kayak Elif (aktris cilik film Turki,red) yah Mak,”pintanya. Musriati heran namun, menuruti saja karena biasa Hanum selalu meminta Ayahnya yang mengikatkan rambutnya.  

Hari itu Hanum berpakaian rapi, Rabu pagi (02/09) ia bersama adik bungsu dan orang tuanya menuju RSU Arifin Achmad Pekanbaru. “Kakak kenapa pakai sepatu tinggi, ga usahlah nak,” tanya ibunya. “Biarlah mak, ga suka kakak kelihatan sakit, biar kelihatan cantik,” jelasnya.

Ibunda Hanum menangis mengenang anaknya. 
Sampai di rumah sakit ia tak langsung menuju ruang pemeriksaan. “Kami berkeliling keliling, dia minta katanya enak juga ya Mak jalan disini,” katanya. Didepan ruang Unit Gawat Darurat Hanum mundur. “Takut Hanum mak, gendong, cium Hanum Mak” katanya seperti anak kecil merengek. “Ga apa apa nak ada mamak,”napa kakak gitu suaranya kayak anak kecil, jangan gitu bikin Mamak takut” ujar sang ibu heran.

Masuk ke UGD Hanum duduk dan langsung dipasang alat kemulutnya untuk dilakukan pengasapan. “Lepas Mak, lepas Tante , lepas Om,” ujar Hanum. “Ga apa do nak, kata saya mungkin dia takut karena alatnya besar jauh besar dari yang dibidan. Posisinya juga ga bisa diubah ubah kayak di bidan.
 Tapi alat tak juga dilepas, Hanum terus menangis. “Langsung saya lepas aja,” terang Musriati. “Mak kakak udah ga disini lagi mak, minta maaf kakak Mak, nampak ga kakak?” tanya hanum. “Kakak kok ngomong gitu kakak. Jangan ngomong gitulah mama takut, nampak nak ini kan mamak pegang mamak cium malah,” ujar sang ibu berurai airmata mengenang kepergian anaknya. “Ga mak percayalah sama kakak,” ujarnya.

Samar tak terdengar lagi suara Hanum, itulah terakhir ucapan Hanum. Ia dinyatakan gagal nafas dan dimasukkan ke Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Tak jua sadar hingga 10 September Hanum meninggal dunia.

Tak hanya kesedihan atas kepergian anaknya, Musriati juga sedih karena rumor yang menyebutkan berbagai jenis penyakit anaknya. “Saya kecewa, di media, di tv swasta nasional Kepala Dinas menyebutkan anak saya sakit menigitislah, apalah ngeri, padahal hingga meninggal hanya sakit gagal nafas,” jelasnya menangis. Dokter tidak melakukan cek darah dan CT Scan terhadap Hanum dikarenakan kondisinya yang tidka memungkinkan karena dipasang berbagai alat bantu menurut sang ibu.

“Kalau memang anak saya sakit yang lain-lain, ga mungkin saya biarkan. Nayawapun jadi taruhan untuk anak,” ujarnya menangis. Kini tak adalagi yang akan mendamaikannya kala ia bertengkar dengan sang Suami, menjadi pengingat agar ia selalu sabar. “Rumah damai kalau ada dia, paling pandai mengambil hati orangtua,” ujar Musriati tak henti menangis selama berbincang dengan saya. 
Tak hanya itu yang membuat Musriati bersedih, keramahan pihak Rumah Sakit tak di temuinya. “Orang di rumah sakit itu bilang saya kayak orang gila, gimana ga gila rasanya, saya cemas anak yang sakit aja meninggal kita ga siap. Apalagi anak yang sehat,” kenangnya berurai air mata. Rumah sakit pun menyuruhnya menandatangani surat kematian Hanum. “Silahkan ibu tangani, sudha tahu kan anak ibu sakit apa, gagal nafas. Tanda tangani disini,” itulah penjelasan mereka menurut Musriati. Hanya itu yang ia tahu tentang penyakit anaknya.

Namun mereka telah mengikhlaskan buah hati mereka. “Saya sudah ikhlas, mau mengugat pun kasihan anak yang ada di kubur diungkit kembali,” ujar Ayah Hanum. Sepeninggal Hanum ada rasa khawatir menyerang karena asap tak kunjung reda. “Kalau anak saya yang dua ini sakit, langsung rasanya saya takut kenapa, khawatir sekali,” ujar Musriati yang masih trauma meninggalnya Hanum. Ia sangat berharap agar pemerintah daerah segera menganggulangi asap, “Ketika sudah tahu kebakaran cepat di tanggulangi, biar tidak ada Hanum berikutnya, cukuplah dia yang terakhir.

Simpati mengalir deras dari berbagai media, masyarakat, dan kerabat karena Hanum merupakan korban meninggal akibat asap yang pertama. Kunjungan dari Gubernur Riau dna bantuan dari pemerintah daerah pun diberikan kepada keluarga ini.
***
Saya pun menjumpai Dokter Spesialis Paru untuk bertanya soal dampak asap, Jumat sore (16/09) di ruang prakteknya RS Awal Bross Cab. Panam. “Kalau yang meninggal detailnya saya tidak tahu karena tidka menangani, Cuma biasa kalau semata mata karena asap biasa tidak sampai meninggal. Tapi bisa jadi karena daya tahan tubuh rendah, akibatnya jadi gagal nafas dan meninggal,” jelas dr. Samsul Afandi SpP (Spesialis Paru RS. Awal Bross Panam).

Ia menyarankan agar masyarakat mengurangi aktifitas diluar ruangan, makan makanan bergizi, minum vitamin, kalau memiliki riwayat penyakit Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), asma, TBC yang sangat rentan dapat keluar daerah.

Berdasarkan data dari UNICEF anak anak lebih rentan terkena dampak kesehatan dari asap. Mereka menghirup lebih banyak udara per kilo berat badan mereka dari orang dewasa. Semua anak di daerah terdampak asap butuh perhatian khusus.  Untuk itu anak seharusnya:
·         Anak anak sebaiknya berada di dalam ruangan.
·         Anak anak harus menggunakan masker
·         Cuci tangan teratur, agar tidak mengkonsumsi makanan saat tangan berdebu
·         Batasi polusi udara seperti asap rokok dan lilin
·         PAntau kesehatan fisik anak, jika sakit segera langsung ke Rumah Sakit.
·         Jaga kondisi psikologis anak, ajak anak bicara, tenang lakukan rutinitas seperti biasa.

Anak anak memang menjadi korban yang sangat akibat dampak asap. Berbeda dengan Hanum yang dapat dilihat gejalanya, Ramadhani Luthfi Aerli (9th) meninggal tanpa tanda meninggal akibat asap.
Luthfi adalah anak yang pintar beberapa kali dia juara dalam lomba, lomba adzan dan hafiz Alquran. Malam ini (27/10) saya menuju rumah Lutfi, Jl. Pangeran Hidayat tepat di tujuh hari kepergiannya keluarga melakukan pengajian. Sekitar 20 orang kaum Bapak memenuhi jalan di depan rumahnya. Didalam rumah sudah dipenuhi kaum ibu, kamipun berbincang diluar.  Rumah itu tampak sederhana dengan lebar kurang lebih 8 meter. Tanpa teras, daerah Pangeran Hidayat merupakan daerah padat penduduk. Rintik hujan sedari sore tak berhenti, Ayah Luthfi mengisahkan kenangan sehari yang merenggut nyawa anaknya.

Pagi (19/10) Luthfi bersekolah seperti biasanya, di kelas ia berlomba menjawab pertanyaan guru pelajaran Matematika tentang perkalian. Murid di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Pekanbaru dipulangkan karena kondisi udara yang buruk. “Jam 12 Luthfi udah di rumah semua sehat sehat aja,”juar Eri Wiria (46th) Ayah Luthfi.
Foto Lutfi yang dijadikan poster demo asap oleh tetangganya

Langit yang menguning sedari pagi karena pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dna lahan menguning. “Pa, Ufi mau main keluar ya,” pinta Lutfi usai Magrib. “Jangan, ga lihat asap tadi parahkan kalau malam turun tu kabutnya,” larang Papanya.
Uring-uringan dia ngotot minta keluar rumah.

“Ya sudah kalau Ufi bisa jawab 10 pertanyaan Papa soal kali-kali (hitungan perkalian) boleh keluar salah satu, boleh bonus pertanyaan satu,” tantang Eri.

Luthfi pun meladeni tantangan Papanya demi dapat bermain keluar rumah. Namun ia hanya dapat menjawab dua pertanyaan. Jadilah ia hanya boleh bermain di dalam rumah. Tak henti merengek minta keluar rumah hingga akhirnya tertidur malam itu.

Asap semakin parah sekolah diliburkan, Luthfi bangun jam 10 pagi karena libur. Lalu ia bermain bersama adiknya, sesekali berebut komputer. Dilarang bermain keluar rumah dia hanya bisa bermain di rumah.

“Bun kepala Ufi pusing, badan agak deman belikan obat ya,” pinta Lutfi ke  Lili wirmaria (33th ). Bunda pun membelikannya obat demam yang lain dari biasa Luthfi minum. Usai makan diminumnya obat sirup, langsung tidur.

Tak biasa Lutfi meminta pada bundanya untuk dibelikan nasi goreng dengan rasa pedas. “Tak biasanya dia mau makan pedas, lalu dia makan ama adeknya. Saya memijat teman yang datang ada mau pijat,” terang Eri.

Yasinan tujuh hari Lutfi ,Ayahnya menunjukkan hasil rontgen
Pukul 10:30 malam saat sang Bunda menelepon ke rumah, Eri pun bertanya pada Lutfi namun tak menjawab dari kamar. “Saya berdiri melihat kekamar dia sudah pegang pinggiran tempat tidur muntahnya sudah beserak,” terang Eri.

Ia pun bersihkan dan mengganti Lutfi, taka da rasa curiga karena Luthfi tak pernah sakit. Tak terbayang olehnya soal asap yang mengganggu kesehatan anaknya. Karena taka da sama sekali batuk dan sesak yang dirasakan Luthfi semua biasa saja, bersekolah, makan, bermain seperti biasa.
Lili pulang ke rumah usai berjualan di cek nya Luthfi ternyata kencing di celana. Digantinya celana Luthfi. Usai diganti Luthfi memeluk sang ayah dan menciumi sang Ayah. “Napa Luthfi bang, mengigau dia,” heran sang Bunda.

Usai Luthfi tenang tertidur mereka makan malam di dapur, tiba tiba Lutfi merangkak, dan muntah. “Luthfi napa nak, ngapa ga panggil papa kata saya. Itu muntahnya air aja, dan dia buang air besar,kami bersihkan dan khawatir dia buang air besar,” jelas sang Ayah. Ia menghubungi Ibunya dan adiknya untuk menjaga anak bungsu mereka.

Lutfi dilarikan ke rumah sakit Pukul 01:00 Wib. Dia sempat menolak tidak mau pergi, akhirnya dipaksa naik ke sepedamotor. “Tolong angkat Luthfi,” pinta Eri kepada satpan RS. Santa Maria Pekanbaru yang merupakan kenalannya. Saat itu Luthfi sedikit kejang dan langsung dilarikan ke UGD.
“Ini harus dirawat secara intensif Pak,”pinta pihak RS Santa Maria.
“Ya lakukan aja ,” jawab Eri.

Anak sulungnya itu pun dimasukkan ke PICU, sebelumnya dilakukan pemeriksaan darah scan dan rontgen. “Saya ga tahan melihat semua alat dipakai di tubuhnya, dia hanya panggi Ibun, ibun saat di UGD setelah itu dia sudah tak sadar” cerita sang Ayah.

Dua jam monitor jantung tak stabil, dokter mengusahakan segala cara, memompa jantungnya “Semua dilakukan dokter, usai adzan Subuh dia meninggal,” ujer Eri.Kesedihan menyelimuti Eri, “Dokter menjelaskan ada gumpalan gumpalan awan di paru paru anak saya dan penipisan oksigen di jantung.”
Anaknya sudah tiada, dia harus melunasi tagihan sejumlah RP 4.359.000,00. “Saya hanya bawa duit 2juta, saya disuruh melunasi dalam waktu tiga hari. Saya tak ada duit, hari keempat saya kesana ternyata sisanya sudah didiskon Rumah Sakit, hutang saya lunas,” terangnya.

Kepergian anaknya tampak sudah mereka ikhlaskan, tak ada airmata yang tampak diwajah keduanya. “ Kita sudah ikhlas mengiklaskan, orang lebih parah dari kita ujiannya. Sampai sinilah janjiannya dengan Tuhan. Tidak ikut menggugat Pemerintah hanya menambah pekerjaan saja nanti. Cuma teman teman ada ikut demo meminta izin kami membawa foto Luthfi,”jelas Eri dan Lili saling menimpali. Hingga kini tak ada bantuan dari pemerintah yang mengalir. Hanya ada satu bantuan pribadi dari Pejabat di Pemda secara pribadi menurut Eri.

“Harapan kami jangan lagi terulang, cukup Luthfi yang terakhir,” pesan Lili Bunda Luthfi.
Harapan dua orang ibu agar pekatnya asap tak merenggut nyawa anak lainnya. Udara yang kian berbahaya, anak anak yang selalu ingin bermain, orang dewasa yang harus bekerja di luar rumah pasti akan terus terpapar asap. Tahun ini sudah tiga bulan Asap tak mereda, hutan terus terbakar. Sudah 18 tahun terus berulang, ntah sampai kapan berhenti.